Bait.
Padahal mungkin belum ke sana, atau baru sekali, atau dua kali, atau mungkin lebih, tetapi kenapa kerinduan itu begitu hebat hingga menyesakkan dada. Mungkin itulah arti dari rumah, sesuatu yang menggenggam hati kita begitu lembut namun erat. Sesuatu yang benar-benar memberi arti bahwa inilah Pulang. Pulang yang bukan hanya mengelukan tetapi juga menggetarkan, menggetarkan bibirmu. Pulang yang menggetarkan hatimu. Pulang yang membuat lakrimalmu menyapa penuh khusyuk. Pulang yang bukan menyenangkan tetapi menenangkan. Pulang yang benar-benar pulang. Pulang di dalam seluas fana.
Kemudian dari pulang menuju pulang.
Ada saatnya entah seberapa lama kamu berdiri di depan pintu, entah seberapa pelan ataupun kencang engkau mengucapkan salam, entah seberapa pelan, sopan atau kencang engkau mengetuk pintu, kamu tak akan pernah ada di dalam. Tak akan pernah. Kamu tak akan pernah. Kamu akan selalu di tempatmu. Tanpa banyak tanya namun hanya. Tugasmu, hanyalah mengucapkan salam. Mengucapkan salam.
Namun lebih dari sekadar adakalanya, kamu tak perlu berdiri di depan pintu, kamu tak perlu mengucapkan salam, kamu tak perlu mengetuk-ketuk pintu, tak perlu, karena sejatinya, kamu tak pernah kemana-mana, kamu selalu ada di tempatmu, kamu selalu ada di dalam, di tempatmu, dan ketika kamu mengucapkan salam, kamulah yang akan menjawab salam itu, kamulah yang yang membuka pintu itu, kamulah salam itu. Kamulah isi dari rumah itu. Kamulah rumah itu. Inilah, satu yang selalu kamu sebut rumah.


0 comments:
Posting Komentar