Minggu, 22 Januari 2012

Evening II

Good Evening, The True Lord.

I beg Your tight, thanks.

Good Evening, The True Lord.
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 21 Januari 2012

Maha Karya

Selamat sore, Maha Karya.

Bagaimanakah kabarmu, hai Maha Karya yang dicipta Sang Kuasa?
Kau telah berhasil membuatku hancur dalam semilyar kepingan karena melihat senyummu dalam tenang.

Gadis kecil berseragam putih merah itu menyalami tanganmu, kau pun tersenyum ramah dan merelakan tangan itu tercium oleh si mungil itu dalam sejuk yang dipayungi matahari.

Ketika itu, kau membuatku tersadar bahwa aku dan keluhku seharusnya tak pantas menerima sebuah catatan takdir untuk kemudian oleh alam dibacakan di bumi yang kau pijak ini.

Aku serasa menjadi patung bodoh atau mungkin mayat hidup. Tubuhku tak sanggup bergerak, kaku kemudian menghancur karena dihujam hebatnya adegan yang kau perankan dalam tenang itu.

Setelah cukup lama berdiri, aku seperti menerima pesan yang terkirim dari sekotak ranjang yang berpenyangga di lehermu yang tegar itu. Pesan yang terkirim melalui senyummu itu tertulis,

"Kadang, keanggunan kulit yang telah lusuh mengeriput direlakan menghadang matahari, berpanas-panasan menikmati debu jalanan. Itulah yang Ia persembahkan kepada alam agar kendaraan umum hendak mengantarkan anaknya menuju bangku sekolah"

Terimakasih, karena darimu oleh sekotak ranjang itu terkirim pesan berharga untukku. Aku ingin mengatakan padamu bahwa Kau adalah Maha Karya yang dicipta oleh Sang Kuasa.

Selamat sore, Maha Karya.
Baca Selengkapnya...

Jumat, 20 Januari 2012

Evening

Good Evening, The True Lord.

I beg Your held, thanks.

Good Evenig, The True Lord.

Baca Selengkapnya...

Kamis, 19 Januari 2012

Kamar Kosong

Selamat sore, Perjalanan.

Aku ingin mengucap terimakasih padamu.
Terimakasih untuk telah membuat suara takbir yang terdengar sewaktu duduk di datas sajadah di dalam kamar yang kosong menjadi terasa begitu indah. Aku berterimakasih atas hadiah itu. Terimakasih juga karena mau bersahabat denganku. Terimakasih.

Selamat sore, Perjalanan.
Baca Selengkapnya...

Rabu, 18 Januari 2012

Surat Cinta Untuk Langit

Selamat sore, langit..

Haii, langit..

Bolehkah kau ku ajak bercerita? Kau harus mau. Harus. Karena tanpa kau menyetujui, aku akan tetap bercerita.

Apakah kau tahu apa yang akan aku ceritakan? Aku rasa kamu tahu. Ya, kamu tahu, kamu pasti tahu. Walaupun kamu tahu, aku akan tetap bercerita.

---

Beberapa bulan kemarin, aku melihat segadis kecil bermain-main di pinggir pantai, ketika itu hujan, dia sendiri.

Di pinggir pantai dia berjalan, bernyanyi, berbicara, tertawa, tersenyum, tetapi kemudian dia menangis. Dia menangis hanya dengan tiba-tiba sejadi-jadinya. Di dalam hujan, dalam sendiri.

---

Hujan seperti menemaninya menangis.
Air matanya dan air mata hujan berpadu mengaku menyatu.
Mereka seperti sepasang kekasih yang saling berpeluk karena menahan saling merindu.

---

Apakah mereka memang sepasang kekasih, langit?
Ataukah mereka memang saling merindu?
Aku tak tahu.

Karena rindu selalu terperangkap oleh keterbatasan atas batas yang tak mampu memantulkan nyata pada mata. Sementara nyatamu, selalu tampak nyata pada mataku.

---

Air mata hujan menetas di hatinya.
Dan air matanya menetes di pantai.
Kemudian dia pulang.
Hatinya dan pantai berselimut basah karena bekas deras hujan

---

Kamulah gadis kecil itu.
Kamulah hujan itu.
Kamulah hati gadis kecil itu, kamulah pantai itu.

Dan langit itu, adalah kamu.
Kamulah langit itu.

Terimakasih,

Selamat sore, langit.

:)

Baca Selengkapnya...

Selasa, 17 Januari 2012

Laut Pada Pantai

"Hujan dan dedaunan menciptakan ribuan tepuk tangan kecil. Saya menciptakan satu senyum kecil dari balik jendela."

to: @hurufkecil
Hallo kak @hurufkecil, salam yah untuk jiwamu @aanmansyur :) pemilik serpih puisi yang diatas..
Aku adalah salah satu pengagum puisi-puisinya. Dan untuk puisinya, Bukan memaknai, bahkan hanya untuk membaca puisi kak @aanmansyur saja aku sudah tak mampu.. Deep, deep inside :)
Aku punya sekecil puisi untuk @hurufkecil, emang tak sebagus punya kakak.. Tapi ini khusus ditulis buat selebtwit @hurufkecil yg jiwa kak @aanmansyur tersimpan di dalamnya :)..

Puisi Laut Pada Pantai
Meskipun kamu tak pernah menyadari dan aku tak pernah mengatakan kepadamu, namun bagiku, kau adalah keindahan yg paling anggun yang diciptakan oleh Pemilik semesta untukku..

Thanks udah nyempatin waktu membacanya..
Once More, Thanks n bye :)
Baca Selengkapnya...

Senin, 16 Januari 2012

Kamu dan Sampai Kehidupan Nanti

Haii, kamu
yang menjadi tulisan teranggun di dalam catatan takdirku nanti..
Apa kabarmu? Baik kah?
Ku harap demikian..
Karena ku pun selalu menulis surat kepada Sang Pemilik Senja, memohon kepadaNya agar selalu menjagamu, agar kamu baik-baik saja disana dan menjalani harimu dengan senyum sehat..

Haii, kamu..
Ingin rasanya segera bertemu denganmu..
Sehingga aku memiliki lebih banyak waktu lagi bersamamu..
Tapi tak apa, kita pasti akan bertemu, itu pasti..
Aku tak benar tahu siapa kamu,
Kamu siapa? Aku ingin mengenalmu..
Ah, andai saja aku mengenalmu..
Tapi tak apa, ini belum waktunya, walaupun demikian, ku berharap kau tersenyum ketika membaca surat ini..
Entah kapanpun kau membacanya..

Haii, kamu..
Nikmatilah dulu hari-harimu..
Selesaikan dulu semua yang ingin dan harus kamu selesaikan..
Kumpulkanlah lebih banyak lagi dedaunan yang bertulis cerita tentang persahabatanmu dengan semesta..
Agar nanti kita akan berbagi dedaunan dari pohon kehidupan itu..
Aku akan senang mendengar dan menyimakmu bercerita tentang dedaunanmu itu..
Ku kan mendengar dan menyimakmu bercerita dengan penuh perhatian sambil menatap wajahmu..

Haii, kamu..
Pilihlah siapapun menjadi pacarmu, seperti yang kamu mau..
Atau jika kau sedang menjalani hubungan dengan pacarmu, jalanilah, nikmatilah saja dulu..
Nikmatilah tiap tetes tinta pada catatan takdirmu..
Sebelum kamu datang padaku, dan 'kan ku hapus semua air matamu..
Dan membiarkanmu menangis di pundakku..

Dan ketika itulah,
Kita akan bertemu,
Hingga kulitku mengeriput..
Hingga langkah kaki rapuh dan bergetar..
Hingga rambut lusuh memutih..
Aku akan menemanimu..

Dan hingga mungkin kau akan membenci melihatku, karena pembungkus tubuhku berubah mengusut..
Tapi yang pasti, yang tak kan berubah..
Senyummu, tetap indah di mata ini..
Dan di hati ini, senjaku tetap setia memeluk harimu..

Dan ketika itulah aku akan mengatakan kepadamu,
Aku hanya ingin menggenggam tanganmu, di kehidupan ini, sampai kehidupan nanti..
Baca Selengkapnya...

Minggu, 15 Januari 2012

Haii Waktu, Apapun kamu: Thanks :)

"Aku udah sampai"
-Delivered-

Setelah sekotak kecil yang mampu menyulap energi pada batrei itu menjadi gelombang suara, serangkaian visualisasi dan lainnya itu dinikahi signal lagi, pesan singkat pun terkirim.

Sesegera ku temui pintu keluar dari gedung itu dengan langkah yang cukup tergesah-gesah. Dan langkah yang masih beberapa saja itu kemudian terhenti.

"Hallo"
"Hallo, aku udah sampai"
"Kamu udah sampai?"
"Iya"
"Tunggu, aku akan menjemputmu"
"Udah gak apa-apa, ntar aku temuin kamu"
"Oh iya ok, sampai ketemu"
"Yapsss"

Reject tertekan dan aku mulai melanjutkan langkah menuju pintu keluar dari gedung, kemudian berlalu.

***

Malam itu pun tiba, kita berkumpul dan bergurau seadanya. Deras hilir kejenakaan pada kalian sejak tiga tahun lalu sampai pada malam itu pun masih tetap terjaga awet, bahkan mungkin lebih deras.

Malam yang telah menuliskan selembar catatan takdir untuk sebuah momment yang paling kita rindukan, yaitu berkumpul dan duduk bersama. Momment yang semenjak tiga tahun terakhir ini terasa begitu angkuh pada kita dan kita pun dapat menghitung kuantitasnya hanya dengan menggunakan sejumlah kenop yang terpampang pada sergam sekolah dulu.

Momment yang sebelumnya sering kita dapat dengan mudah, yaitu dengan mendengarkan seorang guru melagukan ilmunya di depan kelas, mengunjungi rumahmu dan sebaliknya atau pertemuan lain yang dijanjikan ataupun tidak. Bahkan itu mungkin menjadi momment yang paling membosankan karena wajah kamu, kamu, kamu, kamu.. yang selalu saja terlihat, begitu juga sebaliknya. Dan walaupun sebenarnya selalu saja ada sesuatu yang membuat kita selalu saling ingin bertemu meskipun hanya untuk diam di kebersamaan.

Bernostalgia dan seterusnya, itu yang kita lakukan. Dan aku sebetulnya masih berbicara dalam ketercenganan yang tak perlu ditunjukkan. Ketercenganan atas pertemuan untuk timing yang seperti demikian. Tak tahu kenapa, tapi ketika itu aku yakin bahwa setiap kamu merasakan hal yang sama untuk momment itu meskipun tak kalian sampaikan walaupun setelah itu kemudian kita saling menyatakannya sambil saling senyum dan tertepuk bahu.

**

Terimakasih untuk beberapa yang telah menjadi semilyar dalam catatan takdirku.

Terimakasih untuk memasuki gedung dari jalan yang salah dan bersama-sama diarahkan oleh Pak Satpam yang baik hati untuk memutar kendaraan dan melewati jalan yang tepat. Dan kita tak ragu untuk saling memandang agar kemudian saling tertawa.

Terimakasih untuk motor yang mogok. Dengan kenalpotnya yang mampu membuat kumat seorang yang sakit jantung atau yang selalu menyapa ramah pendengarnya dan seakan meminta agar segera dilempar.
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 14 Januari 2012

Aku Mencintaimu, Ibu

Aku mencintaimu, Ibu..
Aku mencintaimu di dalam hening yang menghujan..
Di dalam tatih yang tak pernah meletih..
Di dalam langkah yang tak pernah melelah..
Dan di dalam luruh yang tak pernah mengeluh..

Aku mencintaimu, Ibu..
Aku mencintaimu pada tepian-tepian pantai berombak..
Pada tegar yang tak pernah bergetar..
Pada yakin yang tak pernah berakhir..
Dan pada doamu yang memutiara..

Aku mencintaimu, Ibu..
Darimu, ku belajar mengecap nikmatnya bersabar..

Seperti Senyum yang tak menolak untuk Datang ketika seharusnya berkata "aku tak baik-baik saja"..
Atau Air Mata yang tak menolak untuk Jatuh ketika berkata "Aku Bahagia"..

Aku mencintaimu, Ibu..
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 31 Desember 2011

Mentari.. Pagi..

Seperti matahari yang memecahkan sinarnya pada setiap ujung-ujung pekatnya malam..
Syahdu..
Menyerpih kemudian menerang..
Menghangatkan sepasang bola mata yang terlelap pulas..
Dan itu adalah pagi, begitu harum, harum yang mengalir deras pada setiap rongga-rongga pernafasanku..
Membangunkan dari tidur dengan hangat..
Menyadarkan dari lelap dengan harum..

Dan kamu..
Kamulah matahari itu..
Kamulah pagi itu..

Baca Selengkapnya...