Kamis, 15 November 2012

A Couple of Miracle Leaves

Terimakasih, Tuhan. 

Terimakasih. Engkau telah menciptakan sepasang dedaunan yang begitu dahsyat. Telinga Ibu, misalnya..

Terimakasih..
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 10 November 2012

Jatuh Cinta Kepada Laut

Kita ditatapi pintu, kemudian baru benar-benar menyadari, kita telah jatuh cinta kepada laut. Kita, dikutuk waktu..
Baca Selengkapnya...

Senin, 30 Januari 2012

Frens

Evening, Frens.

I don’t think that all the things will be like this. Our straight used to be same but now we are all different. We have our own straight, we have our own choice, and we have our own way that we have to overrun our self. That time is so special I ever get. I’ve been given the time by My God to meet you, to know you and to get so much education from you. I learn so much from you.

TQ.
Evening, Frens.
Baca Selengkapnya...

Minggu, 29 Januari 2012

Tamu Kehidupan

Selamat sore, Waktu.

Bagaimanakah kabarmu sebelum terbenam matahari? Meninggi dan ketika terbit? Aku begitu berharap kau baik-baik saja, hai sang pemenang. Kau sungguh sang pemenang. Sang pemenang yang memenangkan segala keadaan. Yang memenangkan dan yang memenangkan.


Jika kehidupan adalah rumah, maka suatu kemutlakan adalah ketika menjamumu dengan sebaik-baiknya. Karena kamu adalah tamu bagiku.

Selamat sore, Waktu.

Baca Selengkapnya...

Sabtu, 28 Januari 2012

Evening IV

Good Evening. The True Lord.

I beg Your lead, thanks.

Good Evening. The True Lord.
Baca Selengkapnya...

Jumat, 27 Januari 2012

Kamar Kosong II

Selamat sore, Kamar Kosong.


Haii.. Gimana kabarmu? :)

Sepertinya aku memang harus menanyakan kabarmu walaupun aku tahu benar keadaanmu setiap hari. Ya, benar. Aku sejelas mengiyakan pengakuan itu, semoga kamu juga menyatakan pengakuan yang sama padaku. Memang aku tak mungkin menolak untuk mengiyakan, karena aku dan kamu selalu saling menganga, saling menatap membunuh sunyi sehingga aku dan kamu tak lagi sendiri karena sepi kita telah saling menemani.

Terimakasih untuk menemani dalam keadaanmu tanpa potongan-potongan bola pijar. Dalam keadaan itu kau menampilkan penampilan terbaikmu untuk berbagi cerita denganku. Sudahlah aku ingin berhenti menulis surat ini. Aku sedang ingin bercerita denganmu. Nanti kau ku kirimi surat lagi.

Selamat sore, Kamar Kosong.
Baca Selengkapnya...

Kamis, 26 Januari 2012

Merah Menguning Melingkar

Selamat sore, Merah Menguning Melingkar.

Bagaimana kabarmu? Baik kan?
Kau tampak cantik hari ini, meskipun kau tak memperlihatkan penuh lingkar cahayamu. Kau tampil memukau, sebagai sabit yang melukis senyummu.

Apakah kamu masih ingat, aku pernah kau buat kehujuanan? Hujan yang tak seharusnya turun ketika itu karena ku tak menyadarinya. Dan sekarang, aku begitu bersyukur atas kau buatku kehujanan ketika itu.

Aku masih ingat benar semasa kecil dulu. Ketika ibu melagukan tentangmu. Lagu yang sejak pertama kali hingga sampai saat ini selalu sukses membuatku menembus bening cermin ketika aku mendengarnya. Dan aku memohon agar selamanya.

Aku masih ingat benar semasa kecil dulu. Ketika ibu melagukan tentangmu. Lagu terbodoh yang seharusnya tak pernah ada karena selalu sukses membuatku tersekat rasa takut kehilangan ciuman pada kening dan tangan itu. Tapi aku suka mendengar lagu itu, aku tak ingin kehilangannya juga semua yang menyebabkan lagu itu ku dengar untuk pertama kalinya.

Terimakasih, Purnama.

Selamat sore, Merah Menguning Melingkar.


Baca Selengkapnya...

Rabu, 25 Januari 2012

Evening III

Good evening, The True Lord.

I beg Your breeze, thanks

Good evening, The True Lord.
Baca Selengkapnya...

Selasa, 24 Januari 2012

Manise

Selamat sore, Manis.

Bagaimana kabarmu? Baikkah? Semoga selalu demikian, aku bahagia melihatmu selalu baik-baik saja dan aku selalu mendoakanmu untuk itu.

Apakah kamu tahu? Aku mencintaimu, bahkan cinta padamu telah membeku pada setiap jengkal di sekujurmu. Dan mungkin karena cinta itulah sehingga kau begitu hebat menempati setiap ruang di hatiku walaupun mungkin aku hanyalah satu diantara beribu yang mengagumimu namun tak kau benar tahu siapa aku. Mungkin. Tapi aku begitu mengagumimu.

Apakah kamu tahu? Aku begitu bersyukur untuk kasih sayang Sang Pencipta yang telah menitipkanku padamu. Yang membiarkan nafasku terpaut bersama udaramu. Membiarkan langkah kakiku tertopang bumimu. Dan juga berterimakasih atas sehelai silaturahim yang dengan penuh baik hati telah bersedia menjadi sehalus penyalur sumber pemicu detak jantungku selama 6705 jam, dan sehelai itulah yang telah membuatku menyatu denganmu.

Apakah kamu tahu? Aku rindu duduk bersejajar dengan tanah lapangmu yang mampu membawa sekian orang mengudara. Bukan karena aku ingin kau membawaku mengudara namun ada kekalutan yang harus dipecahkan disana. Kekalutan yang harus dipecahkan dengan membiarkan lazuardi dan senjamu menghantamnya hingga menghancur kemudian menghambur bersama titik-titik sore yang terus mengabur.

Apakah kamu tahu?
Baca Selengkapnya...

Senin, 23 Januari 2012

Moon

Good Evening, The Winner who wins the heart.

I Love U more than the moon that loves the nite.

Good Evening, The Winner.
Baca Selengkapnya...

Minggu, 22 Januari 2012

Evening II

Good Evening, The True Lord.

I beg Your tight, thanks.

Good Evening, The True Lord.
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 21 Januari 2012

Maha Karya

Selamat sore, Maha Karya.

Bagaimanakah kabarmu, hai Maha Karya yang dicipta Sang Kuasa?
Kau telah berhasil membuatku hancur dalam semilyar kepingan karena melihat senyummu dalam tenang.

Gadis kecil berseragam putih merah itu menyalami tanganmu, kau pun tersenyum ramah dan merelakan tangan itu tercium oleh si mungil itu dalam sejuk yang dipayungi matahari.

Ketika itu, kau membuatku tersadar bahwa aku dan keluhku seharusnya tak pantas menerima sebuah catatan takdir untuk kemudian oleh alam dibacakan di bumi yang kau pijak ini.

Aku serasa menjadi patung bodoh atau mungkin mayat hidup. Tubuhku tak sanggup bergerak, kaku kemudian menghancur karena dihujam hebatnya adegan yang kau perankan dalam tenang itu.

Setelah cukup lama berdiri, aku seperti menerima pesan yang terkirim dari sekotak ranjang yang berpenyangga di lehermu yang tegar itu. Pesan yang terkirim melalui senyummu itu tertulis,

"Kadang, keanggunan kulit yang telah lusuh mengeriput direlakan menghadang matahari, berpanas-panasan menikmati debu jalanan. Itulah yang Ia persembahkan kepada alam agar kendaraan umum hendak mengantarkan anaknya menuju bangku sekolah"

Terimakasih, karena darimu oleh sekotak ranjang itu terkirim pesan berharga untukku. Aku ingin mengatakan padamu bahwa Kau adalah Maha Karya yang dicipta oleh Sang Kuasa.

Selamat sore, Maha Karya.
Baca Selengkapnya...

Jumat, 20 Januari 2012

Evening

Good Evening, The True Lord.

I beg Your held, thanks.

Good Evenig, The True Lord.

Baca Selengkapnya...

Kamis, 19 Januari 2012

Kamar Kosong

Selamat sore, Perjalanan.

Aku ingin mengucap terimakasih padamu.
Terimakasih untuk telah membuat suara takbir yang terdengar sewaktu duduk di datas sajadah di dalam kamar yang kosong menjadi terasa begitu indah. Aku berterimakasih atas hadiah itu. Terimakasih juga karena mau bersahabat denganku. Terimakasih.

Selamat sore, Perjalanan.
Baca Selengkapnya...

Rabu, 18 Januari 2012

Surat Cinta Untuk Langit

Selamat sore, langit..

Haii, langit..

Bolehkah kau ku ajak bercerita? Kau harus mau. Harus. Karena tanpa kau menyetujui, aku akan tetap bercerita.

Apakah kau tahu apa yang akan aku ceritakan? Aku rasa kamu tahu. Ya, kamu tahu, kamu pasti tahu. Walaupun kamu tahu, aku akan tetap bercerita.

---

Beberapa bulan kemarin, aku melihat segadis kecil bermain-main di pinggir pantai, ketika itu hujan, dia sendiri.

Di pinggir pantai dia berjalan, bernyanyi, berbicara, tertawa, tersenyum, tetapi kemudian dia menangis. Dia menangis hanya dengan tiba-tiba sejadi-jadinya. Di dalam hujan, dalam sendiri.

---

Hujan seperti menemaninya menangis.
Air matanya dan air mata hujan berpadu mengaku menyatu.
Mereka seperti sepasang kekasih yang saling berpeluk karena menahan saling merindu.

---

Apakah mereka memang sepasang kekasih, langit?
Ataukah mereka memang saling merindu?
Aku tak tahu.

Karena rindu selalu terperangkap oleh keterbatasan atas batas yang tak mampu memantulkan nyata pada mata. Sementara nyatamu, selalu tampak nyata pada mataku.

---

Air mata hujan menetas di hatinya.
Dan air matanya menetes di pantai.
Kemudian dia pulang.
Hatinya dan pantai berselimut basah karena bekas deras hujan

---

Kamulah gadis kecil itu.
Kamulah hujan itu.
Kamulah hati gadis kecil itu, kamulah pantai itu.

Dan langit itu, adalah kamu.
Kamulah langit itu.

Terimakasih,

Selamat sore, langit.

:)

Baca Selengkapnya...

Selasa, 17 Januari 2012

Laut Pada Pantai

"Hujan dan dedaunan menciptakan ribuan tepuk tangan kecil. Saya menciptakan satu senyum kecil dari balik jendela."

to: @hurufkecil
Hallo kak @hurufkecil, salam yah untuk jiwamu @aanmansyur :) pemilik serpih puisi yang diatas..
Aku adalah salah satu pengagum puisi-puisinya. Dan untuk puisinya, Bukan memaknai, bahkan hanya untuk membaca puisi kak @aanmansyur saja aku sudah tak mampu.. Deep, deep inside :)
Aku punya sekecil puisi untuk @hurufkecil, emang tak sebagus punya kakak.. Tapi ini khusus ditulis buat selebtwit @hurufkecil yg jiwa kak @aanmansyur tersimpan di dalamnya :)..

Puisi Laut Pada Pantai
Meskipun kamu tak pernah menyadari dan aku tak pernah mengatakan kepadamu, namun bagiku, kau adalah keindahan yg paling anggun yang diciptakan oleh Pemilik semesta untukku..

Thanks udah nyempatin waktu membacanya..
Once More, Thanks n bye :)
Baca Selengkapnya...

Senin, 16 Januari 2012

Kamu dan Sampai Kehidupan Nanti

Haii, kamu
yang menjadi tulisan teranggun di dalam catatan takdirku nanti..
Apa kabarmu? Baik kah?
Ku harap demikian..
Karena ku pun selalu menulis surat kepada Sang Pemilik Senja, memohon kepadanya agar selalu menjagamu, agar kamu baik-baik saja disana dan menjalani harimu dengan senyum sehat..

Haii, kamu..
Ingin rasanya segera bertemu denganmu..
Sehingga aku memiliki lebih banyak waktu lagi bersamamu..
Tapi tak apa, kita pasti akan bertemu, itu pasti..
Aku tak benar tahu siapa kamu,
Kamu siapa? Aku ingin mengenalmu..
Ah, andai saja aku mengenalmu..
Tapi tak apa, ini belum waktunya, walaupun demikian, ku berharap kau tersenyum ketika membaca surat ini..
Entah kapanpun kau membacanya..

Haii, kamu..
Nikmatilah dulu hari-harimu..
Selesaikan dulu semua yang ingin dan harus kamu selesaikan..
Kumpulkanlah lebih banyak lagi dedaunan yang bertulis cerita tentang persahabatanmu dengan semesta..
Agar nanti kita akan berbagi dedaunan dari pohon kehidupan itu..
Aku akan senang mendengar dan menyimakmu bercerita tentang dedaunanmu itu..
Ku kan mendengar dan menyimakmu bercerita dengan penuh perhatian sambil menatap wajahmu..

Haii, kamu..
Pilihlah siapapun menjadi pacarmu, seperti yang kamu mau..
Atau jika kau sedang menjalani hubungan dengan pacarmu, jalanilah, nikmatilah saja dulu..
Nikmatilah tiap tetes tinta pada catatan takdirmu..
Sebelum kamu datang padaku, dan 'kan ku hapus semua air matamu..
Dan membiarkanmu menangis di pundakku..

Dan ketika itulah,
Kita akan bertemu,
Hingga kulitku mengeriput..
Hingga langkah kaki rapuh dan bergetar..
Hingga rambut lusuh memutih..
Aku akan menemanimu..

Dan hingga mungkin kau akan membenci melihatku, karena pembungkus tubuhku berubah mengusut..
Tapi yang pasti, yang tak kan berubah..
Senyummu, tetap indah di mata ini..
Dan di hati ini, senjaku tetap setia memeluk harimu..

Dan ketika itulah aku akan mengatakan kepadamu,
Aku hanya ingin menggenggam tanganmu, di kehidupan ini, sampai kehidupan nanti..
Baca Selengkapnya...

Minggu, 15 Januari 2012

Haii Waktu, Apapun kamu: Thanks :)

"Aku udah sampai"
-Delivered-

Setelah sekotak kecil yang mampu menyulap energi pada batrei itu menjadi gelombang suara, serangkaian visualisasi dan lainnya itu dinikahi signal lagi, pesan singkat pun terkirim.

Sesegera ku temui pintu keluar dari gedung itu dengan langkah yang cukup tergesah-gesah. Dan langkah yang masih beberapa saja itu kemudian terhenti.

"Hallo"
"Hallo, aku udah sampai"
"Kamu udah sampai?"
"Iya"
"Tunggu, aku akan menjemputmu"
"Udah gak apa-apa, ntar aku temuin kamu"
"Oh iya ok, sampai ketemu"
"Yapsss"

Reject tertekan dan aku mulai melanjutkan langkah menuju pintu keluar dari gedung, kemudian berlalu.

***

Malam itu pun tiba, kita berkumpul dan bergurau seadanya. Deras hilir kejenakaan pada kalian sejak tiga tahun lalu sampai pada malam itu pun masih tetap terjaga awet, bahkan mungkin lebih deras.

Malam yang telah menuliskan selembar catatan takdir untuk sebuah momment yang paling kita rindukan, yaitu berkumpul dan duduk bersama. Momment yang semenjak tiga tahun terakhir ini terasa begitu angkuh pada kita dan kita pun dapat menghitung kuantitasnya hanya dengan menggunakan sejumlah kenop yang terpampang pada sergam sekolah dulu.

Momment yang sebelumnya sering kita dapat dengan mudah, yaitu dengan mendengarkan seorang guru melagukan ilmunya di depan kelas, mengunjungi rumahmu dan sebaliknya atau pertemuan lain yang dijanjikan ataupun tidak. Bahkan itu mungkin menjadi momment yang paling membosankan karena wajah kamu, kamu, kamu, kamu.. yang selalu saja terlihat, begitu juga sebaliknya. Dan walaupun sebenarnya selalu saja ada sesuatu yang membuat kita selalu saling ingin bertemu meskipun hanya untuk diam di kebersamaan.

Bernostalgia dan seterusnya, itu yang kita lakukan. Dan aku sebetulnya masih berbicara dalam ketercenganan yang tak perlu ditunjukkan. Ketercenganan atas pertemuan untuk timing yang seperti demikian. Tak tahu kenapa, tapi ketika itu aku yakin bahwa setiap kamu merasakan hal yang sama untuk momment itu meskipun tak kalian sampaikan walaupun setelah itu kemudian kita saling menyatakannya sambil saling senyum dan tertepuk bahu.

**

Terimakasih untuk beberapa yang telah menjadi semilyar dalam catatan takdirku.

Terimakasih untuk memasuki gedung dari jalan yang salah dan bersama-sama diarahkan oleh Pak Satpam yang baik hati untuk memutar kendaraan dan melewati jalan yang tepat. Dan kita tak ragu untuk saling memandang agar kemudian saling tertawa.

Terimakasih untuk motor yang mogok. Dengan kenalpotnya yang mampu membuat kumat seorang yang sakit jantung atau yang selalu menyapa ramah pendengarnya dan seakan meminta agar segera dilempar.
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 14 Januari 2012

Aku Mencintaimu, Ibu

Aku mencintaimu, Ibu..
Aku mencintaimu di dalam hening yang menghujan..
Di dalam tatih yang tak pernah meletih..
Di dalam langkah yang tak pernah melelah..
Dan di dalam luruh yang tak pernah mengeluh..

Aku mencintaimu, Ibu..
Aku mencintaimu pada tepian-tepian pantai berombak..
Pada tegar yang tak pernah bergetar..
Pada yakin yang tak pernah berakhir..
Dan pada doamu yang memutiara..

Aku mencintaimu, Ibu..
Darimu, ku belajar mengecap nikmatnya bersabar..

Seperti Senyum yang tak menolak untuk Datang ketika seharusnya berkata "aku tak baik-baik saja"..
Atau Air Mata yang tak menolak untuk Jatuh ketika berkata "Aku Bahagia"..

Aku mencintaimu, Ibu..
Baca Selengkapnya...